Speechless ngomongin NU
“Hmm…berarti sudah berat ya bicara ideologis,?”
Masih mengenai jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan berlangsung Agustus 2026. Ada yang pesimis tentang keberlangsungan NU ke depan, bahkan speechless (kehilangan kata-kata). Di tengah diam, saya akhirnya mengajak bincang seorang rekan melalui aplikasi WhatsApp.
“Bagaimana muktamar NU kang, kira-kira kekuasaan masih butuh?” begitu saya membuka percakapan.
Tak lama sahabat saya itu menjawab,“Seharusnya sih bisa masuk ya untuk bangun taktikal borjuasinya. Karena ormas-ormas keagamaan termasuk NU yang sudah jadi setting besar. Potensinya sudah mengakar membudaya jadi hamparan besar borjuasi.”
“Hmm…berarti sudah berat ya bicara ideologis,?” saya kembali bercakap. Kembali dijawab, “Sudah rumit bicara ideologi. Tapi paling tidak menggawangi otokritik NU agar punya posisi tawar. Tentu dengan cara tidak menggadaikan kapasitas NU,” tegas dia.
Membaca komentar itu, saya langsung berpikir, “Oh..berarti masih ada harapan. Setidaknya ada keinginan agar NU ke depan menjadi kekuatan penyeimbang atas kekuasaan, sehingga punya bergaining.”
Saya sambut lagi pernyataan sahabat saya itu, “Trus siapa figurnya,?”
Dijawabnya lagi, “Soal figur harus yang minim dengan irisan internasional terutama Barat. Sudah speechless kita ini bicara NU, bicara PMII, makin feodalistik dan makin ultra pragmatis, mau gimana coba?”
“Ampuuun…,” saya jawab.
Dia melanjutkan, “Tubuh organisasi menuntut peningkatan modernisasi, tapi pikiran konservatif dan anehnya tindakannya malah liberal. Kepatuhan pada kyai hanya sebatas kata-kata feodalistik. Silaturahmi nir konten yang jelas, hanya gimik show of force. Dan penyakit ini ditularkan ke kita-kita. Oleh karenanya yang kita lakukan hanya plesiran politik.”